24 March 2006
Saya belajar, bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai….
Saya belajar, bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan
dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya….
Saya belajar, bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali….
Saya belajar, bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal
dan kami selalu memiliki waktu terbaik….

Saya belajar, bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh,
walau dipisahkan oleh jarak yang jauh.Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati….
Saya belajar, bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian
seperti yang saya inginkan, bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya….
Saya belajar, bahwa sebaik-baiknya sahabat itu, mereka pasti
pernah melukai perasaan saya dan saya harus memaafkannya….
Saya belajar, bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri….,
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus….
Saya belajar, bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu,
dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya….
Saya belajar, bahwa saya tidak dapat merubah sahabat,
tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri….
Saya belajar, bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan….
Saya belajar, bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda,
tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda….
Saya belajar, bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,
tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya….
Saya belajar, bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini,
semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati….
Saya belajar, bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi
atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya….
Saya belajar, bahwa saya punya hak untuk marah,
tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis….
Saya belajar, bahwa kata-kata manis tanpa tindakan
adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai….
Saya belajar, bahwa orang-orang yang saya kasihi
justru sering diambil segera dari kehidupan saya….
Saya belajar, bahwa yang membuat saya tetap hidup
adalah semangat dan kemauan untuk tetap belajar…..
9 December 2005
Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya.
Ketika tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya.
Wajah Ayahnya mulai berkerut-merut dan badannya terbungkuk-bungkuk.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya.
“Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dan…
badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk ?”
Ayahnya menjawab “Sebab aku Laki-laki.” Itulah jawaban ayahnya.
Anak wanita itu bergumam “Aku tidak mengerti.”
Dengan kerut-kening karena jawaban ayah membuatnya penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu.
Kkemudian ayahnya mengatakan…
“Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”
Demikian bisik ayahnya, yang membuat anak wanita itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya.
Lalu bertanya kepada Ibunya…
“Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut dan…
badannya kian hari kian terbungkuk ? Dan sepertinya Ayah menjadi demikian
tanpa ada keluhan dan rasa sakit ?”
Ibunya menjawab “Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar bertanggung-jawab
terhadap keluarga itu memang akan demikian”.
Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa.
Tetapi dia tetap saja penasaran.
Mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan,
menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?
Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi.
Di dalam impian itu dia bertemu sosok malaikat,
seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata…
suatu rangkaian kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.
“Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga
serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga.
Dia Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang
menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula
untuk melindungi seluruh keluarganya.”
“Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi
yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih,
agar keluarganya tidak terlantar,
walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya.”
“Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya.”
“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan kerapkali menyerangnya.”
“Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara.”
“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya.”
“Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang setia terhadap suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada isteri, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi.”
“Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup bahagia dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”
“Ku-berikan kepada laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia.”
Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari ke kamar Ayahnya ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu mencium telapak tangan Ayahnya dan berkata “Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Terima Kasih Ayah.”
—————-
Kiriman dari: Debby Susanti, Surabaya
Untuk The Acesia Newsletter No. 31 - Maret 2005
31 August 2005
Ini papanya Ela dan Risa. Waktu kunjungan ke Perth, West Australia. Tahun 2003. Setelah menyelesaikan pelatihan bertanam kentang di Lake Jaspers Potatoes Farming, refreshing di kota. Foto ini diambil sama orang di stasiun, yang direpotin dengan ungkapan klise : “I am sorry mister, can you help me to get my photo?”

Tentu saja orang itu mau. Dia paham ini pasti turis. Jadi sebaiknya dia ramah. hehehe….
Turis bawa kresek putih, dasar kere. Eh, ini mau naik kereta api ber-AC. Tiketnya terusan, bisa dipakai 4 jam. Eh malah kesasar ke pantai, liat bule telanjang dada berjemur.
Lucu ya, ke pantai pake celana kantoran. Uhuy, dasar turis indonesia…
Kasihku,
Setiap malam, ketika aku beranjak tidur
Kulihat wajahmu yang manis
Kutatap lengkung bibirmu
Yang selalu dihiasi kejujuran
Setiap pagi, ketika aku bangun tidur
Kulihat senyum mu yang sejuk
Kutatap mata sayumu
Yang selalu mengajak sholat subuh
Maafkan kemalasanku
Maafkan kebohonganku
Maafkan kebodohanku
Maafkan kecuranganku
Maafkan semua perilaku
Yang membuat dirimu
Tak pernah menikmati kebahagiaan
Sebagaimana seharusnya
Tak banyak yang aku miliki
Tak ada yang pantas aku berikan
Selain, keinginan untuk mengabdi
Bagi mu, bagi anak-anak
Tuhan tahu itu,
Tuhan dengar janji ini,
Dari Papa
Yang tak pernah berhenti mencintai
Yang tak akan mau ada pengganti

Dumai, 30 Agustus 2005
26 August 2005

Yang besar namanya Ela, adiknya dipanggil Risa. Mereka anak-anak yang manis dan penurut. Keduanya juga juara satu di kelasnya masing-masing. Bajunya sama, berwarna merah. Model baju cina ini dibelikan papanya waktu berkunjung ke kota Senzhen China. Foto ini dibuat ketika kami tinggal di Blimbing Malang. Si Ela masih TK besar dan adiknya belum sekolah. Mereka sama-sama pintar bergaya kalau di foto.
23 August 2005
Seperti apa keluarga yang kaya itu ? Yang memiliki uang banyak, rumah mewah atau mobil keluaran terbaru ?
Mungkin benar itu indikatornya. Tapi itu saja tidaklah cukup. Keluarga kaya yang sebenarnya adalah
yang mampu menikmati dan mensyukuri apa yang dimilikinya saat ini dan bukan menderita karena selalu memikirkan dan mengejar apa yang diinginkan.
Yang selayaknya dipahami juga adalah bentuk kekayaan itu. Kekayaan yang hanya diukur dari segi materi adalah ungkapan kebodohan semata. Kedangkalan pemahaman dan kekerdilan jiwa. Istri yang solihah, anak yang pintar dan berbakti, suami yang setia dan mertua yang pengertian juga wujud lain dari kekayaan yang hakiki.
Tapi mengapa kita selalu mabuk kalau melihat dompet kekenyangan seperti ini ?

Jawab saja dengan nurani, tak usah banyak omong.
21 August 2005
Blogger Family
Keluarga blogger adalah keluarga impian di dunia virtual. Anang Syaifudin yang jadi papanya, Siti Maslahah bersedia menjadi mamanya. Yang besar, rambutnya lurus, namanya Ella. Usianya 11 tahun, sekarang kelas 5 MI. Adiknya yang berambut ikal, Risa panggilannya. Usianya baru 7 tahun, udah kelas 2. Semuanya pengen rukun, damai dan bahagia. Semoga Tuhan memberikan perlindungan selalu. Amiin.